Skandal BBM Ilegal Gabion Belawan:Jaringan Mafia Solar "Oknum Perkumpulan Nelayan" Diduga Suplai Kapal Pukat Harimau di Pelabuhan Gabion

Hukum & Kriminal 08 September 2026 7 views
Skandal BBM Ilegal Gabion Belawan:Jaringan Mafia Solar "Oknum Perkumpulan Nelayan" Diduga Suplai Kapal Pukat Harimau di Pelabuhan Gabion

Belawan -Praktik penyalahgunaan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan atau yang lebih dikenal sebagai Gabion Belawan kembali mencuat ke permukaan.

Berdasarkan informasi yang beredar luas dari berbagai sumber di lapangan, aktivitas monopoli pasokan solar ilegal ini diduga kuat dimotori oleh oknum-oknum yang berlindung di balik organisasi nelayan setempat.

Modus operandi yang dijalankan sindikat ini diduga melibatkan pengumpulan BBM solar—yang semestinya diperuntukkan bagi nelayan kecil atau sektor berhak—untuk kemudian dialihkan secara ilegal kepada kapal-kapal penangkap ikan berukuran besar, khususnya kapal pukat harimau (trawl).

Praktik ini tidak hanya mencederai keadilan bagi para nelayan tradisional yang kesulitan mendapatkan solar subsidi, tetapi juga memicu keresahan karena kapal pukat harimau secara regulasi telah dilarang beroperasi demi menjaga kelestarian ekosistem laut dan mencegah konflik horizontal antar-nelayan.

Dari penelusuran berbagai laporan warga dan pegiat lingkungan maritim di Medan Belawan, distribusi gelap ini diduga memanfaatkan celah pengawasan serta dokumen pelayaran fiktif atau pinjam nama agar pasokan solar tetap mengalir lancar.

Oknum organisasi nelayan yang disinyalir menjadi dalang utama berperan sebagai pengatur ritme distribusi sekaligus pengaman di tingkat lapangan, sehingga aktivitas bongkar muat BBM ilegal tersebut seolah berjalan aman tanpa tersentuh hukum.

Dampak dari rantai pasok ilegal ini sangat nyata di perairan Sumatra Utara. Keberadaan pasokan solar yang memadai membuat kapal-kapal pukat harimau dapat terus beroperasi secara masif merusak terumbu karang dan menghabiskan sumber daya ikan di selat Malaka.

Kondisi ini membuat hasil tangkapan nelayan tradisional tradisional di Belawan merosot drastis dalam beberapa waktu terakhir.

Hingga berita ini diturunkan, desakan dari berbagai elemen masyarakat, kelompok pemerhati lingkungan, dan perhimpunan nelayan murni terus mengalir kepada aparat penegak hukum baik pihak kepolisian maupun Pertamina selaku penyedia untuk segera turun tangan.

Publik menuntut adanya investigasi menyeluruh dan penindakan tegas tanpa pandang bulu terhadap oknum-oknum organisasi nelayan maupun pihak swasta yang bermain api di balik bisnis haram solar ilegal di Gabion Belawan.
(jhoe)